Selasa, 26 Februari 2008

Terapi Ceragem


Tidak semua orang percaya, bahwa terapi Ceragem Batu Giok (CBG) dapat menyembuhkan penyakit kista (cyst). Secara medis, kista semestinya harus dioperasi untuk menghilangkannya sehingga terjadi kehamilan. Kalau tidak demikian, hanya ketika terjadi kehamilan saja, kista baru bisa hilang dengan sendirinya.

Berli Boru Manihuruk (35 thn) warga Kramat Lontar Jakarta Pusat, mengidap penyakit kista dengan ukuran 8 cm lebih. Berli, (panggilan akrabnya), coba melakukan USG dan berkonsultasi dengan beberapa dokter di beberapa rumah sakit baik swasta maupun pemerintah soal bagaimana menghilangkan kista yang dialaminya. Jawabannya, semua dokter menyarankan bahwa jalan satu-satunya yang terbaik adalah mengoperasi kista tersebut.

Namun Berli tidak serta merta mengikuti saran para dokter tersebut. Ia takut operasi. Lalu ia mau mengikuti keyakinannya dengan memilih pengobatan alternatif tanpa obat berbahan kimia atau operasi.

Pada saat itulah muncul idenya untuk melakukan terapi CBG yang kebetulan dibeli orang tuanya pada tahun 2006 lalu. Soalnya terapi CBG tersebut sudah terkenal bisa menyembuhkan aneka penyakit yang diidap tetangganya seperti penyakit lumpuh, tumor, atau rabun mata di lingkungan sekitar Kramat Lontar. Tidak heran melihat banyak orang ke rumahnya melakukan terapi dan sembuh, Berli pun mencoba terapi CBG tersebut.

Alat terapi CBG sebenarnya akhir-akhir ini lagi nge-trend di Indonesia, teristimewa di Jabodetabek. Banyak orang melakukan terapi CBG dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Alat terapi CBG menyerupai tempat tidur listrik. Proses kerja CBG adalah proses pelepasan energi panas listrik melalui batu giok yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga pada alat terapi tersebut terdapat tiga kabel yang masing-masing berisi batu giok 6-9 buah. Salah satu kabel berisi batu giok tersebut berfungsi untuk bagian punggung yang diletakkan di bawah tempat tidur. Batu giok tersebut dapat diset bergerak baik secara otomatis maupun diset terfokus pada bagian punggung. Dua kabel berisi batu giok lainnya dirancang secara manual. Artinya keduanya digunakan dan ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit mulai dari ujung kaki sampai ke ujung bagian kepala. Penggunaan CBG dianjurkan 3-4 kali sehari. Fungsi terapi CBG tersebut adalah memperlancar peredaran darah dan proses kimiawi dalam tubuh manusiawi lewat batu giok dengan bantuan listrik. Panasnya bisa mencapai 60 derajat celsius. Energi panas tersebutlah yang membantu pemulihan dan penyehatan dinamika peredran darah dalam tubuh.

Berangkat dari pengetahuan akan fungsi terapi CBG tersebut, Berli dengan penuh keyakinan menggunakan terapi CBG untuk menghancurkan kista yang dideritanya. Tiap hari, selama dua bulan ia melakukan terapi CBG. Salah satu kabel berisi batu giok tersebut menempel langsung pada kulit tubuh tempat kistanya bersarang. “Sangat panas, tetapi tidak berbahaya, karena lewat panasnya tersebutlah, kista saya bisa hancur” demikian akunya terkait dengan panasnya energi yang keluar dari CBG tersebut.

Pada akhir bulan kedua, Berli merasa kistanya sudah hilang. Untuk membuktikan kebenarannya, ia kembali melakukan USG, memang benar kistanya sudah hilang. Dokter pun tidak percaya. Untuk memastikan bahwa kista tersbut benar-benar hilang, ia mencoba USG di dua rumah sakit swasta yang berbeda, hasilnya juga sama, kista sudah hilang. Para dokter heran. ini mujijat, komentar salah seorang dokter, demikian cerita Berli kepada penulis.

Namun itulah kenyataan, kistanya sudah hilang, sekarang Berli sedang hamil dan tinggal menunggu kelahiran anaknya. Ternyata kista bisa sembuh dengan terapi CBG bila diikuti niat dan keyakinan kuat serta dengan bantuan kuasa adikodrati. Bagi anda pengidap kista, beranikah mencoba terapi CBG atau membeli alat terapi CBG? Ini bukan promosi ya…, jika ada berminat tuliskan data diri anda di ruang komentar ini. (Diceritakan Berli kepada Pormadi pada bulan Januari 2008)

Dikutip dari : Ekspresihati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar